Jenis-Jenis Reksadana dan Risikonya

Diposting pada

Reksadana atau mutual fund merupakan salah satu jenis instrumen investasi yang cukup populer saat ini. Hal ini disebabkan karena reksadana memiliki lebih banyak kemudahan dan keunggulan jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya. Misalnya, kamu sudah bisa membeli reksadana hanya dengan minimal Rp10 ribu saja. Kemudian dana yang sudah dibelikan reksadana juga sangat likuid alias dapat dijual kapan saja sesuai kebutuhan kamu.

Selain dua keunggulan tersebut, masih ada banyak keunggulan lainnya. Reksadana dapat dibeli dengan mudah via website ataupun aplikasi APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana) yang kini sudah cukup banyak bertebaran misalnya Bibit, Tanamduit, Ajaib, Bareksa, dan lain-lain. Dana yang kita investasikan juga dikelola oleh manajer investasi yang profesional dan diawasi oleh otoritas jasa keuangan. Jadi buang jauh-jauh rasa takut berinvestasi di instrumen ini ya.

Sebelum berinvestasi, perlu diketahui juga jenis-jenis reksadana karena beda jenisnya akan berbeda pula risikonya. Misal reksadana pasar uang yang memiliki risiko paling rendah dan reksadana saham yang memiliki risiko cenderung tinggi. Untuk lebih detailnya mengenai jenis-jenis reksadana secara umum akan dijelaskan sebagai berikut.

  1. Reksadana Pasar Uang (RDPU)

Reksadana jenis ini memiliki risiko paling rendah begitu juga dengan keuntungannya, namun cenderung lebih stabil. Imbal hasil dari RDPU ini sedikit di atas bunga deposito. RDPU ini sangat cocok untuk investor jangka pendek dan yang kurang suka mengambil risiko.

  1. Reksadana Obligasi / Pendapatan Tetap (RDO)

Reksadana ini memiliki risiko yang cenderung moderat. Reksadana jenis ini berisi obligasi atau surat utang, baik dari korporasi maupun negara. RDO ini sangat cocok untuk planning investasi di bawah 3 tahun.

  1. Reksadana Saham (RDS)

High Risk, High Return adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan reksadana ini. Reksadana jenis ini memiliki risiko yang paling tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Dana yang kita investasikan akan dialokasikan pada beberapa saham perusahaan. Di sisi lain RDS ini juga menjanjikan keuntungan yang besar. Dikutip dari BahanaLink, RDS dalam 10 tahun terakhir memberikan return rata-rata sebesar 18% dalam setahun karena harga saham perusahaan yang baik, secara histori akan terus meningkat. Reksdana jenis ini cocok untuk investor jangka panjang dan investor yang senang mengambil risiko.

  1. Reksadana Campuran (RDC)

Reksadana jenis ini berisi campuran dari beberapa instrumen investasi baik surat utang maupun saham tergantung pada manajer investasinya. Reksadana ini cocok untuk investasi jangka menengah. Risikonya di bawah RDS ya.

  1. Reksadana Syariah

Reksadana jenis ini menekankan menajemennya pada prinsip-prinsip syariah, seperti menghindari industri perbankan yang mengandung riba, industri minuman keras, dan rokok. Reksadana jenis ini juga melalui proses screening dan cleansing, juga diawasi Dewan Pengawas Syariah agar produknya benar-benar mengacu pada prinsip syariah, sehingga berbeda dengan reksadana konvensional lainnya.

  1. Reksadana Indeks

Nah kalo reksadana ini pergerakannya didasarkan pada pergerakan indeks tertentu. Misalnya indeks LQ45 yang berisi 45 saham perusahaan di bursa, maka pergerakan reksadananya akan mengacu pada pergerakan indeks rata-rata saham tersebut. Dana kita dialokasikan secara pasif di saham-saham tersebut. Berbeda dengan reksadana saham yang mengelola dana kita secara aktif (jual beli untuk melampaui indeks).

Sebenarnya masih ada jenis-jenis reksadana yang lainnya ya, tapi buat gambaran secara umum sepertinya sudah cukup itu saja. Sekarang tugas kalian adalah memilih manajer investasi yang kalian suka dan perhatikan juga alokasi dana tiap produk dari manajer investasi. Karena berbeda manajer pasti berbeda juga alokasi dananya meskipun pada jenis reksadana yang sama. Salam cuan, sampai jumpa pada postingan berikutnya.